
Panduan Lengkap Emisi Karbon Scope 1, 2, dan 3 untuk Perusahaan di Indonesia
Bagi perusahaan di Indonesia yang dikejar tenggat kepatuhan POJK 51, pelaporan ke Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI), atau ingin berpartisipasi dalam Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), langkah pertama selalu sama: mampu menghitung emisi karbon secara akurat. Di sinilah konsep Scope 1, 2, dan 3 menjadi krusial—kerangka kerja yang digunakan secara global untuk mengklasifikasikan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) perusahaan.
Artikel ini menjelaskan apa itu Scope 1, 2, dan 3, mengapa Scope 3 sering menjadi tantangan terbesar, serta langkah praktis untuk mulai menghitung jejak karbon perusahaan Anda.
Scope 1: Emisi Langsung
Scope 1 mencakup emisi yang dihasilkan langsung dari aset dan aktivitas operasional yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan. Contohnya termasuk pembakaran bahan bakar fosil pada mesin pabrik, kendaraan operasional milik perusahaan, dan generator di lokasi.
Scope 2: Emisi Tidak Langsung dari Energi
Scope 2 adalah emisi tidak langsung yang berasal dari listrik, panas, atau pendingin yang dibeli dan digunakan perusahaan. Contoh paling umum adalah emisi yang dihasilkan saat memproduksi listrik yang digunakan untuk operasional gedung atau pabrik Anda—meskipun pembangkit listriknya dimiliki pihak lain (misalnya PLN).
Scope 3: Emisi Rantai Nilai—Tantangan Terbesar
Scope 3 mencakup emisi GRK tidak langsung yang terjadi di sepanjang rantai nilai perusahaan—mulai dari pemasok, distribusi, penggunaan produk oleh konsumen, hingga pengelolaan limbah. Berdasarkan data CDP, Scope 3 rata-rata menyumbang 70–90% dari total jejak karbon perusahaan di berbagai sektor industri—menjadikannya komponen terbesar sekaligus paling sulit diukur, karena datanya berada di luar kendali langsung perusahaan.
Inilah sebabnya banyak perusahaan yang sudah matang dalam pelaporan Scope 1 dan 2 tetap kesulitan saat harus melaporkan Scope 3—mereka perlu mengumpulkan data dari pemasok, mitra logistik, dan bahkan perilaku konsumen.
Mengapa Perhitungan Emisi Karbon Penting bagi Perusahaan Indonesia
- Kepatuhan POJK 51 dan SPK 2027: pengungkapan emisi karbon adalah komponen inti laporan keberlanjutan berbasis IFRS S2.
- Pelaporan SRN-PPI: registrasi aksi mitigasi perubahan iklim ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mensyaratkan data emisi yang terverifikasi.
- Partisipasi di Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon): perusahaan perlu baseline emisi yang akurat sebelum dapat memperdagangkan unit karbon.
- Akses pembiayaan berbasis ESG: bank dan investor semakin mensyaratkan data emisi sebagai bagian dari asesmen risiko sebelum menyalurkan kredit atau investasi berkelanjutan.
Langkah Praktis Menghitung Emisi Karbon
1. Tentukan batasan organisasi dan operasional. Ikuti standar GHG Protocol atau ISO 14064 untuk menentukan aset dan aktivitas mana saja yang termasuk dalam perhitungan.
2. Kumpulkan data aktivitas. Konsumsi bahan bakar, listrik, perjalanan dinas, hingga data dari pemasok utama untuk Scope 3.
3. Terapkan faktor emisi yang sesuai. Konversikan data aktivitas menjadi setara CO2 menggunakan faktor emisi resmi dari Kementerian ESDM atau IPCC.
4. Prioritaskan kategori Scope 3 yang paling material. Tidak semua kategori Scope 3 sama pentingnya untuk setiap industri—fokus pada kategori dengan kontribusi emisi terbesar terlebih dahulu, seperti pembelian barang/jasa atau transportasi distribusi.
5. Gunakan sistem digital untuk konsistensi dan auditability. Perhitungan manual di spreadsheet rentan human error dan sulit diverifikasi auditor. Sistem terpusat memastikan metodologi konsisten dari tahun ke tahun.
Kesimpulan
Menghitung emisi karbon Scope 1, 2, dan 3 bukan lagi sekadar praktik terbaik—melainkan fondasi kepatuhan regulasi dan daya saing bisnis di Indonesia. Perusahaan yang mulai membangun kapabilitas ini lebih awal, terutama untuk Scope 3 yang paling kompleks, akan lebih siap menghadapi kewajiban SPK 2027 dan tuntutan transparansi dari investor maupun mitra bisnis.
Clerra membantu perusahaan Anda melacak emisi Scope 1, 2, dan 3 secara otomatis dan terpusat, sehingga data selalu siap audit. Hubungi tim kami untuk konsultasi dan demo gratis.